LOKASI :di “
DESA WISATA” Dusun Garungan, Desa Karangsari, Kecamatan Sapuran Wonosobo . (sekitar
5 km dari Alun-alun Sapuran)
Desa
Wisata Karangsari dan Curug Drimas yang diresmikan Rabu ,23 Maret 2015 ini menurut Kepala Desa Karangsari,
M.Pujianto, meskipun dusun Garungan ini tiap tahun dijadikan lokasi KKN
mahasiswa namun belum belum banyak pengunjung yang datang ke obyek wisata alam
ini.
KEUNIKANNYA:
1.
Curug Drimas yang merupakan air terjun tertinggi
di kawasan tersebut memiliki tiga tingkatan atau lapisan air terjun. Ketinggian
40 meter, 15 meter, dan 20 meter total ketinggian air terjun Curug Sewu adalah
75 meter.
2.
Curug Drimas masih hijau dan alami.
3.
Setiap bulan Ruwah banyak peziarah yang
mengunjungi makam Kiai Asmorogati, Kiai Adep, Kiai Lari, Kiai Kosel, dan Kiai
Laris.
4.
Penduduk desa Garungan ramah dan murah senyum kepada
pengunjung dusun ini, setiap tahun mereka mengadakan pentas
wayang kulit dalam acara Merdi Dusun mereka.
CERITA
LEGENDA
Konon bila melihat
pelangi di antara deburan air terjun
Curug Drimas ini merupakan pertanda keberuntungan kita bisa melihat para
bidadari sedang turun ke bumi untuk mandi di Sendang curug ini. Kadang juga
terdengar suara tawa ria dan kecipak air seperti ditepuk-tepuk para bidadari
yang mandi.
Kata kakek
buyut penduduk di dusun ini warna pelangi itu adalah selendang para bidadari
yang sedang mandi.

terimakasih
BalasHapusDi lereng sunyi pegunungan Sapuran, tersembunyi sebuah air terjun tua yang jarang disentuh manusia. Penduduk sekitar menyebutnya Curug Drimas. Tempat itu diselimuti kabut dingin, suara burung hutan, dan tebing basah yang dipenuhi lumut hijau. Konon, tidak semua orang bisa menemukan curug itu dengan mudah. Hanya mereka yang “dipanggil alam” yang dapat sampai ke sana.
BalasHapusHandoko, seorang pecinta alam muda, mendengar cerita itu dari seorang pendaki tua di pasar kecil Sapuran. Dengan rasa penasaran, ia memulai perjalanan menyusuri jalan setapak hutan Kalibawang seorang diri. Langit mulai mendung ketika ia memasuki hutan pinus yang sunyi. Kabut turun perlahan menutup jalur. Suara jangkrik dan desir angin membuat suasana terasa semakin asing.
Semakin jauh berjalan, Handoko sadar ia telah tersesat.
Tasnya mulai basah oleh embun. Nafasnya memburu. Ia mencoba mencari jalan pulang, namun semua arah tampak sama. Pohon-pohon besar menjulang seperti bayangan raksasa. Di antara rasa takut dan bingung, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh air dari kejauhan.
Suara itu seperti memanggil.
Handoko mengikuti arah suara tersebut, menuruni lereng licin penuh akar pohon. Sampai akhirnya kabut terbuka perlahan… dan di hadapannya berdirilah Curug Drimas yang megah.
Air jatuh deras dari tebing tinggi seperti tirai putih raksasa. Embun beterbangan di udara. Cahaya matahari sore menembus sela awan dan membentuk pelangi besar di tengah deburan air.
Namun saat itulah Handoko membeku.
Di balik warna-warna pelangi itu… ia melihat tujuh perempuan berparas sangat cantik sedang mandi di sendang batu bawah air terjun. Rambut mereka panjang berkilau. Kulit mereka bercahaya lembut terkena kabut air. Mereka tertawa riang sambil bermain air, dan suara tawanya menggema bersama derasnya curug.
Handoko gemetar antara takut dan takjub.
Ia bersembunyi di balik batu besar, tak berani bergerak. Pelangi di sekitar curug tampak hidup, berputar lembut seperti selendang warna-warni yang melayang di udara.
Salah satu perempuan itu perlahan menoleh ke arah Handoko.
Tatapannya tenang… namun membuat bulu kuduk berdiri.
Dalam sekejap, angin dingin berhembus kencang. Kabut menebal menutupi seluruh curug. Suara tawa itu perlahan menghilang. Ketika kabut kembali terbuka, tujuh perempuan tadi telah lenyap.
Yang tersisa hanya suara air jatuh dan pelangi tipis di atas sendang.
Handoko terduduk lemas.
Saat malam tiba, ia akhirnya menemukan jalan menuju sebuah dusun kecil di Kalibawang. Warga desa menolongnya dan memberinya minuman hangat. Di depan tungku api, seorang kakek buyut desa mendengar cerita Handoko sambil tersenyum pelan.
“Tidak semua orang bisa melihat mereka,” ujar sang kakek dengan suara lirih.
“Konon, bila pelangi muncul di antara deburan Curug Drimas, itu pertanda para bidadari sedang turun ke bumi untuk mandi di sendang curug.”
Api kayu berderak pelan.
“Kadang warga juga mendengar suara tawa perempuan… atau suara air seperti sedang ditepuk-tepuk tangan. Warna pelangi itu dipercaya sebagai selendang para bidadari.”
Handoko diam memandangi api.
Ia teringat tatapan perempuan di balik kabut tadi. Bukan tatapan marah… melainkan seolah memberi pesan bahwa alam memiliki rahasia yang tidak boleh sembarangan diusik manusia.
Sejak malam itu, legenda Curug Drimas semakin terkenal di kalangan pendaki dan pecinta alam. Banyak orang datang berharap melihat pelangi ajaib itu.
Namun hingga kini… hanya sedikit yang benar-benar mendengar tawa para bidadari di balik kabut air terjun.